Peran keluarga menentukan kemajuan bangsa

Oleh: Robby Patria
Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Tanjungpinang

MENJADIKAN lulusan penerus generasi bangsa ke depan memiliki karakter yang baik adalah impian seluruh orang tua dan pemimpin negeri ini. Karena dengan sumber daya yang handal lahir dari proses pendidikan keluarga yang berkualitas akan membawa Indonesia menjadi negara maju di 2045 atau 100 Indonesia merdeka. Atau kita terus terperangkap menjadi negara berkembang? Bahkan, negara gagal karena diisi oleh generasi muda yang kalah bersaing?

Isu terbaru menjadi kontroversi di Indonesia saat ini adalah munculnya situs anak-anak usia SD melakukan pergaulan yang tidak sewajarnya, pembunuhan, tawuran, pergaulan bebas, mencuri. Dan tentunya Lesbi Gay Bisexual Transgender (LGBT).

Masalah tersebut tentulah bertentangan dengan akidah maupun tata kehidupan norma sosial kehidupan manusia yang sewajarnya. Bahkan jika kita melihat ke ribuan tahun lalu, Allah SWT pernah mengirimkan hukuman kepada kaum Nabi Ludt yang tidak mendengarkan perintah Allah terkait larangan hubungan mereka sesama jenis.

Yang menjadi masalah kekinian adalah, beberapa tokoh publik yang menjadi idola masyarakat malah diduga tersangkut skandal LGBT. Tak heran, bagi dunia kampus yang menjadi ladang pencarian ilmu serta jatidiri pemuda dan pemudi oleh Kemenristek hal tersebut di luar kewajaran dan dilarang. Banyak persoalan anak bangsa yang sedang terjadi di negeri ini menyebabkan pemerintah melalui Menteri Pendidikan galau sehingga menggunakan dua kurikulum sekaligus yakni KTSP dan K13.

Hal itu tentu saja menyebabkan ratusan ribu sekolah di Indonesia ada dua pedoman dalam melayani anak didik menjadikan mereka memiliki karakter yang baik. Karena merekalah penurus bangsa. LGBT bukanlah karakter yang baik bagi anak anak bangsa kita. Hal tersebut bisa menjadikan lemahnya generasi penerus bangsa. Bahkan sejumlah negara barat pun melarang keras LGBT karena sudah menyimpang dari kebiasaan manusia.

Jika pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam kurikulum K 13 sudah sesuai harapan, maka anak didik kita siap menuju pintu gerbang Indonesia emas menjadikan Indonesia negara sejahtera adil dan makmur. Namun sebaliknya, jika generasi penerus bangsa tidak memiliki karakter yang baik, apalagi memiliki prilaku yang dilarang dari segi agama dan konstitusi kita, bukan tidak mungkin cita cita nasional kita bernegara sulit untuk diwujudkan.

Persoalan bangsa Indonesia terkini adalah karena lemahnya karakter baik penyelenggara negara maupun aparatur sipil negara (ASN) sehingga mudah untuk terbuai dengan bujuk rayu ke arah lembah hitam. Akhirnya walaupun Anggaran Pendapatan Belanja Negara menembus Rp2.000 triliun, tetap saja, roda pembangunan masih tersendat-sendat. Negara harus mencari pinjaman luar negeri untuk membiayai pembangunan di Indonesia. Bayangkan pinjaman luar negeri Indonesia baik swasta dan pemerintah sudah menembus angka US$ 303,7 miliar atau mencapai Rp 4.376,3 triliun (kurs terkini Rp 14.410/US$) (data Bank Indonesia, Juli 2015).

Oleh karena itu, negara ini akan maju jika dikelola oleh penyelenggara negara dan ASN yang memiliki karakter yang baik sesuai dengan nilai budi luhur pendiri bangsa kita yang sudah memberikan contoh terbaik dalam menjalankan amanah sebagai abdi negara. Kita bisa melihat bagaimana karakter mulia mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta yag hidup sederhana sehingga untuk membeli sepatu merek Bally pun Hatta tak mampu.

Kesederhanaan diperlihatkan oleh pendiri bangsa tersebut bukanlah untuk pencitraan, melainkan bukti nyata bahwa mereka bukan bercita-cita menjadi kaya raya ketika menjadi pejabat negara. Mereka sadar bahwa amanah menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati dan walikota maupun jabatan publik lainnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia melainkan di akherat. Menjadikan perserta anak didik yang memiliki karakter baik seperti pendiri bangsa Indonesia di atas menjadi pekerjaan rumah lembaga pendidikan di Indonesia baik swasta dan negeri sampai ke universitas.

Jika melihat kepada pengalaman masa lalu di abad 19, negara penjajah Belanda membentuk lembaga pendidikan di Indonesia dalam rangka untuk menjadikan rakyat jajahannya sedikit cerdas tidak tertinggal dari pendidikan kaum Belanda sehingga mereka bisa dipekerjakan di pekerjaan kelas buruh. Pendidikan kolonial cukup memberikan pengetahuan membaca, menulis dan buku kisah kesuksesan Belanda menguasai kerajaan di Indonesia.

Belanda belum menanamkan pendidikan karakter yang kuat kepada anak Hindia Belanda. Bahkan sekolah pun masih dibagi ke beberapa bagian. Khusus pelajar Belanda, pribumi dan China. Pendidikan zaman Belanda melahirkan anak didik yang memiliki jiwa terjajah. Karena hanya diajarkan kebesaran Belanda melalui buku yang khusus dikarang oleh cendikiawan Belanda.

Masih memiliki harapan

Setelah 70 tahun merdeka, kualitas pendidikan Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan negara maju terutama memiliki karakter yang pernah diajarkan lebih dari 1400 tahun lalu oleh suri tauladan terbaik Nabi Muhammad. Jika generasi penuerus bangsa memiliki karakter jujur, amanah, bisa dipercaya dan bertitegritas, maka impian besar kita menjadi negera maju akan menjadi kenyataan.

Saat ini jika kita melihat perbandingan melalui Programme for International Student Assessment (PISA), merupakan suatu penilaian secara internasional terhadap ketrampilan dan kemampuan siswa usia 15 tahun. Ketrampilan dan kemampuan dalam PISA yang dinilai meliputi matematika (mathematics literacy), membaca (reading literacy), dan sains (science literacy).

Peringkat Indonesia selalu berada di posisi di bawah dibandingkan negara lainnya yang ikut berpartisipasi dalam survei tersebut. Misalnya di tahun 2003, peringkat Indonesia di posisi 38 dari 40 negara. Tahun 2006 anak anak Indonesia di posisi 50 dari 57 negara, 2009 di posisi 66 dari 67 negara dan 2012 di posisi 64 dari 65 negara. Kita masih kalah dari Vietnam. Bahkan jauh tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat dua setelah Tiongkok di posisi pertama. Bahkan negara negara di Eropa lainnya sebagaian besar berada di 20 besar.

Berdasarkan analisis, anak-anak Indonesia berada di peringkat buncit karena kelemahan peserta didik Indonesia pada literasi sains disebabkan oleh rendahnya kemampuan mengidentifikasi masalah ilmiah, menggunakan fakta ilmiah, memahami sistem kehidupan, dan memahami penggunaan peralatan sains. Untuk meningkatkan kemampuan peserta didik-peserta didik Indonesia yang rendah dalam literasi sains, maka menurut Pusat Penelitian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud yang perlu dilakukan agar Indonesia tak tertinggal jauh yakni peningkatan pembelajaran sains yang mengarah kepada kemampuan mengidentifikasi masalah, menggunakan fakta, menerapkan sistem kehidupan, memahami penggunaan peralatan sains, penyediaan alat pembelajaran sains, penggunaan sumber belajar/buku sesuai dengan konteks kompetensi dan peningkatan kemampuan guru sains.

Yang menjadi kendala adalah, pemerataan kualitas guru dan infrastruktur di Indonesia masih sulit. Terutama di daerah kepulauan seperti di Kepri. Inilah pekerjaan berat pemerintah dalam menyetarakan pendidikan di daerah kepualauan dengan perkotaan. Ketimpangan pemerataan kualitas pendidikan tersebut akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan antara perkotaan dan pedesaan.

Kita bisa menyaksikan di sekolah perkotaan yang sudah dilengkapi dengan fasilitas multimedia, maka sekolah di perkampungan belum dilengkapi fasilitas multimedia yang memadai. Sebaran guru yang tidak merata antara di desa dan perkotaan juga menjadi kendala tersendiri.

Jika masalah ini tak diselesaikan dengan segera, pemerintah membiarkan ketimpangan menjadi hal yang biasa. Akibatnya tingkat kemiskinan di perkotaan tentu tidak bisa berkurang. Penduduk di kawasan pedesaan lebih banyak menjadi tenaga kerja non formal di bidang petanian, perikanan dan buruh lepas harian dan sektor informal lainnya.

Penduduk dari desa yang hijrah ke perkotaan tanpa dibekali dengan pengetahuan yang cukup akan memasuki angkatan kerja di sektor nonformal dengan gaji yang kalah besar dibandingkan sektor formal. Tak ayal, rasio gini Indonesia semakin tinggi, menembus 0.42. Karena yang kaya terus menjadi kaya dan merek yang berasal dari kalangan miskin sulit untuk berubah menjadi menengah atau kelas kaya disebabkan kemampuan mereka menjadi kaya terhambat sumber daya manusia yang lemah. Tentu saja faktor penyebabnya adalah gagalnya mengenyam pendidikan yang baik hingga ke jenjang sarjana.

Kebijakan pemerintah menyediakan beasiswa bidik misi untuk siswa yang tidak mampu, setidaknya menjadi “dewa penyelamat” agar anak-anak tak mampu bisa mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Hanya saja jumlah tersebut memang harus ditambah lagi kuotanya karena masih terbilang kecil dibandingkan jumlah mahasiswa yang tak menerima bantuan pendidikan tersebut. Bidik Misi salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk menciptakan negara kesejahteraan melalui pendidikan.

Keluarga, institusi yang masih terjaga

Dewasa ini, kita melihat banyak institusi negara yang kurang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Lembaga peradilan yang seharusnya menjadi penegak keadilan tertimpa pelbagai macam masalah yang menyebabkan publik prihatin. Karena banyak oknum hakim yang terlibat kasus penyuapan.

Institusi pendidikan kita yang menjadi harapan banyak orang tua, sepertinya mulai mengalami krisis kepercayaan dalam mendidik anak bangsa. Bahkan guru-guru yang seharusnya melekat kewajiban mendidik, sepertinya mulai mengabaikan hal tersebut. Hal itu bisa saja disebabkan, guru yang sedikit mencubit anak didiknya di sekolah langsung dihadapkan dengan pihak jeruji besi.

Bukan satu atau dua kasus, guru yang sebenarnya berusaha menjalankan tugas mendidik kepada siswa harus berurusan dengan pihak aparat hukum karena dianggap melanggar HAM karena menyakiti anak. Hal inilah menyabkan guru kemungkinan besar lebih mengutamakan peran mengajar di kelas. Dan mengurangi peran mendidik yang seharusnya menjadi yang paling utama.

Dengan segudang masalah pendidikan yang sangat kompleks tersebut, sebenarnya masih ada harapan besar kepada institusi keluarga untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik kepada anak. Inilah institusi yang dianggap masih terjaga dari pengaruh negatif.

Memang kita akui, ada juga keluarga yang tidak harmonis yang menyebabkan anak-anak yang berada di dalam lingkungan tersebut berprilaku buruk. Ada juga orang tua yang acuh dengan perkembangan anak anaknya. Namun, untuk melahirkan generasi muda Indonesia yang handal, ke depan, peran keluarga lebih dioptimalkan. Di sinilah peran pemerintah memberikan sosialisasi kepada rakyat Indonesia agar serius memperhatikan pola pendidikan di rumah.

Orang tua di dalam keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika mereka didik dengan cara yang baik di dalam keluarga tersebut, maka kebaikan nilai tersebut akan mempengaruhi akhlak si anak. Hal itu sesuai dengan firman Allah “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS Luqman: 17).

Allah mengabadikan kisah Luqman bagaimana mendidik anaknya di dalam rumah tangga. Jika kita serius mempelajari metode Luqman tersebut, orang tua akan berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang berkarakter baik.

Selain itu juga menurut analisis Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994) orang tua dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya.

Demikian juga dengan Hurlock (1973) menyatakan banyak penelitian yang dilakukan para ahli menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan di sekitarnya.

Dan akhirnya, peranan pendidikan orang tua dalam keluarga menentukan kehidupan generasi muda calon pemimpin Indonesia ke depannya. Di tangan mereka apakah Indonesia bisa menjadi negara maju atau kita tetap menjadi negara berkembang. Atau bahkan menjadi negara miskin. (*)

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top