Lingga temukan solusi pupuk dari inovasi

DAIK (KP): Kendala keterbatasan stok pupuk pada sawah Sungaibesar, Kecamatan Lingga Utara, tak hanya sekadar musibah, tapi juga membawa berkah yang luar biasa terhadap masa depan pertanian di Lingga. Adanya kendala itu mendorong pemerintah daerah menemukan solusi lebih baik dan lebih efektif sebagai penganti pupuk kimia.

Melalui kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kendala keterbatasan stok pupuk pada 13 hektare lahan sawah Sungaibesar segera teratasi dengan pupuk organik hayati (POH) hasil penemuan seorang peneliti LIPI. Jika berhasil diterapkan, pupuk cair yang memanfaatkan hasil permentasi mikroba tersebut akan dapat menyuburkan tanaman, serta mampu meningkatkan hasil panen petani menjadi satu setangak kali lipat dari prediksi panen awal.

Bahkan, POH  itu juga akan menjauhkan Lingga dari masalah kendala stok lagi ke depannya. Karena petani sendiri akan mampu membuatnya dengan memanfaatkan bahan organik yang ada di lingkungan sekitar, yang kemudian difermentasikan dengan mikroba temuan Dr Sarjiya Antonius (Anton), seorang peneliti LIPI.

Seperti yang dijelaskan Kepala Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Prof Dr Bambang Subianto, dalam sambutannya sesaat sebelum penandatanganan MoU antara Pemkab Lingga dengan LIPI, di Daik Lingga, Kamis (12/5/2016) kemarin. Bambang menjelaskan, saat ini temuan Dr Anton telah melahirkan pengganti pupuk kimia, dan telah terbukti lebih efektif dalam pertumbuhan tanaman.

“Dengan pupuk cair ini terbukti telah meningkatkan produktivitas padi biasa dari 8 ton per hektar menjadi 12 ton. Selain itu juga bisa meningkatkan produktivitas tanaman sayuran dan buah-buahan. Saat ini, di Pulau Jawa itu tanahnya sudah kena pupuk kimia seperti Urea dan SPBK,” kata dia.

Bahkan dengan penggunaan pupuk cair yang harganya jauh lebih murah dibandingkan pupuk kimia tersebut, mampu menjaga dan meningkatkan kesuburan pada tanah. Artinya, pilihan pupuk temuan LIPI akan sangat membantu kendala yang dihadapi Lingga saat ini, yakni keterbatasan stok pupuk untuk sawah Sungaibesar.

Sebelumnya, Adi Indra Pawennari, pelaksana proyek persawahan di Sungaibesar, mengatakan, pupuk yang tersedia di Lingga jauh dari cukup. Bantuan pupuk subsidi dari pemerintah provinsi sebanyak 16 ton per tahun masih belum mampu memenuhi kebutuhan sawah Sungaibesar. Diperhitungkan, saat ini kebutuhan pupuk subsidi minimal 100 ton per tahun.

“Untuk mencukupinya, Bupati Lingga mengusahakan dengan pupuk industri yang harganya jauh lebih mahal. Kita berharap pemerintah provinsi dapat membantu memberikan kemudahan ini kepada Gapoktan Sawah Terbilang kita,” ungkapnya.

Dia optimis, jika sawah Sungaibesar dapat bantuan pihak provinsi, pencapaian Lingga menjadi lumbung padi Kepri akan jauh lebih cepat.

“Satu hektarenya kita dapat menghasilkan 8 ton gabah kering. Semakin luas lahan yang digarap, semain besar kuota beras yang akan dihasilkan,” jelasnya.

ARDHY

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top