Lingga berpotensi kembangkan industri pengolahan kelapa

TG PINANG (KP): Kabupaten Lingga hanya berpotensi untuk dikembangkan pengembangan industri agro berbasis kelapa dan turunannya. Tepatnya di Desa Marok Kecil, Kecamatan Singkep Selatan.

Demikian disampaikan Ady Indra Pawennari, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), melalui rilis yang diterima PEDULI. Ady pada Selasa (19/4/2016) kemarin baru saja mengikuti mengikuti rapat kelompok kerja (Pokja) rencana aksi pengembangan dan penumbuhan industri agro Provinsi Kepulauan Riau di Kings Hotel, Batam.

Menurut peraih anugerah Pahlawan Inovasi Teknologi ini, AISKI mendukung program pengembangan dan penumbuhan industri agro, khususnya industri pengolahan kelapa dan turunannya di wilayah Kabupaten Lingga yang digagas Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian.

“Kabupaten Lingga ini merupakan salah satu daerah penghasil buah kelapa terbesar di Kepulauan Riau. Namun, industri pengolahan kelapanya belum ada. Bahkan, sabut kelapanya dibiarkan terbuang layaknya sampah. Padahal, sabut kelapa ini bisa diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi,” jelas Ady.

Berdasarkan catatan AISKI, Kecamatan Singkep Selatan memiliki potensi buah kelapa mencapai angka sekitar 3 juta butir per tahun. Dengan demikian, daerah ini memiliki potensi produksi serat sabut kelapa (coco fiber) sekitar 450 ton per tahun dan serbuk sabut kelapa (coco peat) sebanyak 1.170 ton per tahun.

Setiap butir sabut kelapa rata-rata menghasilkan coco fiber sebanyak 0,15 kilogram dan coco peat sebanyak 0,39 kilogram. Sementara Harga penjualan coco fiber di pasar dalam negeri saat ini berkisar Rp2.500 – 3.500 per kilogram dan coco peat berkisar Rp1.500 – 2.500 per kilogram.

Sebelumnya, Ady menyampaikan, rapat kerja rencana aksi pengembangan dan penumbuhan industri agro Provinsi Kepulauan Riau dihadiri Kepala Bagian Program Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Muhammad Iqbal Karana; Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau, Saut M Siallagan; konsultan pendamping dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Sapta Raharja; serta sejumlah perwakilan perusahaan industri agro di wilayah Kepulauan Riau.

“Sejak tahun 2012 lalu, AISKI sudah menjalin kemitraan dengan Kementerian Perindustrian dalam pengembangan industri sabut kelapa di Indonesia. Kementerian Perindustrian menyiapkan bantuan fasilitasi sarana produksinya, sedangkan AISKI berperan sebagai pendamping teknologi dan pasarnya,” ungkap Ady.

REDAKSI

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top