Dana investasi kolega digelapkan Rp4 M

Agustinus Matius Dimel saat mendengarkan eksepsi penasihat hukumnya dalam persidangan di PN Tanjungpinang, Selasa (6/2/2018). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Agustinus Matiun Dimel tengah menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Direktur Utama PT Yakin Citra Mandiri (YCM) ini didakwa jaksa dengan pasal penggelapan.

Persidangan ini masih dalam tahap pembacaan eksepsi atau nota keberatan dari penasihat hukum Agustinus, Selasa (6/2/2018).

Ketua majelis hakim Iriaty Khairul Ummah menjadwalkan sidang tanggapan jaksa atas eksepsi ini pada 9 Februari. Selanjutnya, persidangan dilanjutkan dengan putusan sela.

Berdasarkan data di pengadilan, perbuatan ini dilakukan Agustinus saat ia bertemu dengan Komisaris PT Kalimantan Metallurgy Pratama (KMP) Hok Hie alias Antony di Hotel Grand Butik Gunung Sahari, Jakarta Pusat, sekitar Agustus 2011 lalu. Pertemuan tersebut tentang kerja sama penambangan bijih besi di Desa Mirah, Kecamatan Tumbang Sambah, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.

PT YCM sudah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi pada 26 Mei 2011 dari Bupati Katingan saat itu. Agutinus sedang mencari investor untuk memodali pertambangan bijih besi.

Setelah beberapa kali bertemu, Agustinus dan Antony sepakat bawah PT KMP sebagai kontraktor tunggal penambangan bijih besi. Kesepakatan kerja sama tersebut dituangkan dalam Surat Perjanjian Pengangkatan Kontraktor Jasa Pertambangan pada 28 Oktober 2011 antara PT YCM dan PT KMP di hadapan Notaris Agnes Margono di Kabupaten Bintan.

Dalam perjanjian tersebut dinyatakan, Agustinus sebagai perwakilan PT YCM bertanggung jawab mengurus izin usaha penambangan (IUP) eksplorasi ditingkatkan menjadi izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi. Izin ini harus diselesaikan Agustinus selama enam bulan.

Biaya pengurusan izin ini ditanggung oleh PT KMP. Biaya pengurusan izin ini diberikan Antony kepada Agustinus sebesar 250.000 Dolar Amerika (USD) di Singapura pada 28 Oktober. Sedangkan tanda terima uang ini dibuat di Hotel Novotel Batam hari itu juga.

Suntikan dana kembali diberikan kepada Agustinus secara bertahap melalui transfer rekening Bank Mandiri cabang Tanjunguban. Dana ini ditransfer beberapa kali hingga mencapai jumlah Rp1.025.000.000.

Kenyataannya, dana investasi itu tidak digunakan sebagaimana perjanjian sebelumnya. Dalam pengurusan proses peningkatan IUP eksplorasi menjadi IUP operasi produksi itu, dana yang dikeluarkan Agustinus hanya Rp815.185.000. Sisanya sekitar Rp3.184.815.000 digunakan untuk kepentingan pribadi tanpa seizin Antony.

Meski izin IUP operasi produksi sudah dikeluarkan Bupati Katingan pada 15 Desember 2014, Agustinus tidak menyerahkannya kepada Antony. Total kerugian Antony akibat perbuatan Agustinus ini mencapai Rp4 miliar.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top