Wanita pembuang bayi di Mantang disidang

Kartini alias Mak Bunga digiring petugas usai mendengarkan dakwaan jaksa di PN Tanjungpinang, Kamis (8/2/2018).

TANJUNGPINANG (KP): Kartini alias Mak Bunga menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Kamis (8/2/2018). Ia didakwa jaksa atas pembuangan bayi di Kampung Mantang Riau, Desa Mantang Lama, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan.

Jaksa Penuntut Umum Dani Daulay memaparkan perbuatan Mak Bunga. Berawal saat anak Mak Bunga berinisial SB lemas dan pingsan pada 19 November 2017, sekitar pukul 21.00.

Mengetahui kejadian itu, bidan desa bernama Maimunah dipanggil agar datang ke rumah. Kondisi tubu SB diperiksa bidan.

Rupanya, SB tengah hamil lima bulan. Mak Bunga pun terkejut.

Si bidan pulang sekitar pukul 22.30. SB mengeluh kesakitan sekitar pukul 03.00, pada 20 November 2017.

“Terdakwa melihat kepala bayi tersebut sudah keluar. Selanjutnya, terdakwa membantu menarik kepala bayi tersebut,” jelas JPU Dani.

Setelah keluar, bayi berjenis kelamin wanita itu diletakaan di samping kaki SB. Tali pusar di bayi dipotong dengan gunting.

Si bayi menangis. Merasa malu, bayi itu dibawa Mak Bunga ke arah pintu samping belakang.

“Terdakwa langsung membuang bayi tersebut di laut. Terdakwa juga membuang gunting yang digunakan untuk memotong tali pusar bayi ke laut,” ungkap JPU Dani.

Rumah kembali dirapikan. Setelah itu, anaknya yang laki-laki, SU, dihubungi agar datang ke rumah.

Setibanya di rumah, SU terkejut mendengar kabar bayi itu dari Mak Bunga. Bayi itu diambil anak dari adiknya.

SU diminta mengambil kembali bayi itu yang berada di bawah kamar mandi. Sementara itu, SB dibawa Mak Bunga ke rumah bidan desa.

Kondisi SB sempat ditanyakan Maimunah. Namun, Mak Bunga beralasan jika SB buang air besar.

SB dan jenazah bayinya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah di Kijang, Kecamatan Bintan Timur. Kondisi si bayi diperiksa Dokter Ahmad Teguh Kurniawan.

Hasil visum, sesosok jenazah dengan nama Mrs X berjenis kelamin perempuan diduga meninggal akibat asfiksia. Asfiksia adalah kekurangan oksigen pada pernafasan yang mengakibatkan ancaman jiwa.

Pada tubuh bayi perempuan itu terdapat air laut. Sehingga, paru-paru mengalami kegagalan untuk mengembang dan mengeluarkan buih halus pada kedua lubang hidung. Mulut berwarna kebiruan disertai keluarnya rembesan darah dari kedua telinga bayi.

“Inilah yang mengakibat bayi tersebut mengalami kematian,” sebut JPU Dani.

SURYA

Spread the love

*

*

Top