Korupsi dana hibah Kemendikbud

Ketua STIKOM IGA dituntut 3,5 tahun

Mecca Rahmady berkonsultasi dengan penasihat hukumnya usai dituntut jaksa di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Selasa (30/1/2018). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Mecca Rahmady (43) dituntut selama tiga tahun dan enam bulan penjara. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago (Stikom IGA) ini terbukti korupsi uang negara Rp730 juta.

Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Selasa (30/1/2018), Jaksa Penuntut Umum Gustian Juanda Putra mengatakan, Mecca terbukti bersalah. Unsur pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor terpenuhi.

Hal itu berdasarkan fakta persidangan dimana negara dirugikan Rp730 juta. Angka ini diperoleh dari hasil penghitungan investigastif.

Tuntutan ini diajukan kepada Mecca ini berdasarkan berbagai hal pertimbangan. Hal memberatkan, Mecca tidak mendukung pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal meringankan, Mecca belum pernah dihukum dan punya tanggungan keluarga.

“Kami menuntut terdakwa tiga tahun dan enam bulan penjara,” sebut JPU Gustian.

Mecca juga didenda Rp50 juta. Bila uang denda tak sanggup dibayar, hukumannya ditambah tiga bulan kurungan.

Kerugian negara sudah diganti Mecca Rp25 juta dari Rp730 juta. Jika uang negara tidak dikembalikan seluruhnya, maka hukuman Mecca ditambah satu tahun dan sembilan bulan penjara.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat Stikom IGA Tanjungpinang menerima dana Program Hibah Pembinaan Perguruan Tinggi Swasta (PHP-PTS) dari Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) pada 2013 lalu sekitar Rp750 juta. Setelah menerima dana tersebut, Mecca memindahbukukan dana hibah itu dari rekening kampus ke rekening PT Detha Prima sebesar Rp384.842.200 pada 9 Oktober 2013.

“Terdakwa menarik uang tersebut ditemani Rudi Iswandi di Bank Syariah Mandiri cabang Tanjungpinang,” kata JPU Gustian.

Selanjutnya, dana hibah yang berada di rekening kampus kembali ditransfer Mecca ke rekening CV Mutiara Mandiri Creasindo (MMC) yang berada di Bank Muamalat Bogor sebanyak dua kali, Rp75 juta dan Rp100 juta pada 21 Oktober. Maryam, rekannya yang berada di Jakarta, diminta memindahkan dana tersebut dari CV MMC ke rekening pribadi di BCA.

Pemindahan dana ini guna memudahkan terdakwa menarik dana tersebut menggunakan kartu ATM milik saksi Maryam. Pada tanggal itu juga, Maryam ditemui Mecca di Jakarta.

Kartu ATM BCA Maryam diminta. Dana hibah yang tersimpan di rekening pribadi Maryam ditransfer ke rekening pribadi Mecca.

Sisa dana hibah kembali ditransfer Mecca ke rekening CV MMC pada 6 November 2013, sebesar Rp30 juta dan Rp75 juta. Maryam kembali diminta memindahkan dana dari CV itu ke rekening pribadinya. Lagi, Maryam ditemui Mecca pada 6 November 2013.

Kartu ATM Maryam diminta untuk mentrasfer dana itu ke rekening Mecca. Kemudian, Mecca kembali ke Tanjungpinang.

Saat di kampus, Cut Isma diminta Mecca menarik dana hibah Kemendikbud itu dari rekening kampus sebesar Rp100 juta pada 27 Desember 2013. Setelah ditarik, uang itu diserahkan ke Mecca.

Pada 15 Januari 2014, Mecca diminta pihak Direktorat Kerjasama dan Kebudayaan Ditjen Dikti Kemendikbud membuat laporan PHP-PTS yang diterima Stikom IGA. Laporan penggunaan dana dikirim Mecca ke Ditjen Dikti Kemendikbud pada 22 Maret 2014.

Dalam laporannya, dana itu seolah-olah terserap seluruhnya. Rupanya, laporan tersebut tidak sesuai dengan panduan yang dibuat Direktorat Kelembagaan dan Kerja Sama Ditjen Dikti Kemendikbud.

Laporan penggunaan dana hibah itu belum ditandatangani Mecca. Sehingga, laporan itu tidak sah.

Hasil pemantauan tim dari Ditjen Dikti, dana hibah tersebut tidak pernah dilaksanakan sesuai proposal yang diajukan Mecca. Dokumen laporan juga tidak bisa dilihatkan dan dipertanggungjawabkan Mecca. Temuan Badan Pengawas Keuangan (BPK), kerugian negara sekitar Rp730 juta.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top