Kepala DLH Batam didakwa pasal suap

Dendi Purnomo saat mendengarkan jaksa membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Kamis (11/1/2018). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): A Dendi Noviardi alias Dendi Purnomo (54) dan Amiruddin alias Amir (59) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Kamis (11/1/2018). Keduanya didakwa jaksa dengan tindak pidana suap.

Jaksa Penuntut Umum Muhammad Chadafi Nasution memaparkan isi dakwaan bagi kedua terdakwa itu. Berawal saat PT Telaga Biru Semesta (TBS) mendapat pekerjaan pembersihan tanki kapal Armada Intervied berbendera Inggris.

Pekerjaan ini diperoleh dari dari PT Bias Delta Pratama (BDP) sekitar awal Oktober 2017. Pembersihan tanki ini akan dikerjakan di perairan Jembatan 6 Barelang.

Untuk pekerjaan ini, dokumen purchase order (barang yang dibutuhkan) diberikan PT BDP pada 4 Oktober. Setelah menerima dokumen tersebut, dokumen dan perizinan diurus PT TBS ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam, Kantor Syahbandar, dan Kantor Bea Cukai.

Perizinan ini ditangani langsung Amir, selaku Direktur Utama (Dirut) PT TBS. Amir bertemu dengan Hasbi yang menjabat Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan dan Pengendalian DLH Batam pada 6 Oktober, sekitar pukul 14.00.

Dokumen yang diajukan Amir diproses. Dokumen perizinan itu diberikan Hasbi kepada Masrial, Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan DLH Batam.

Diungkapkan Masrial bahwa ia ragu menandatangani dokumen rencana kegiatan yang sudah ditandatangani tersebut. Amir diminta menghubungi Kepala BLH Batam Dendi Purnomo.

Hasbi diminta Masrial menghubungi Dendi. Dalam percakapan itu, dokumen kegiatan itu akan ditandatangani Dendi.

Amir diminta Hasbi mengajukan blanko baru untuk ditandatangani Dendi. Tak lama kemudian, blanko rencana kegiatan diantara Eem, bawahan Amir.

Dendi kembali dihubungi Hasbi mengenai tanda tangan blanko itu. Hasbi diminta mengantar blanko itu ke kediamannya esok pagi.

“Namun, blanko itu tak kunjung diantar Hasbi. Keberadaan Amir ditanyakan Dendi ke Hasbi. Pasalnya, Amir karena tak kunjung ‘menghadap’ ke rumah Dendi,” ungkap JPU Chadafi.

Akhirnya, Amir baru bisa bertemu dengan Dendi di kediamannya, Kompleks Pengairan, Kelurahan Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, pada 23 Oktober, sekitar pukul 13.45. Laporan pekerjaan pembersihan tanki kapal itu diserahkan Amir kepada Dendi untuk dibaca.

Setelah dibaca, Amir diminta Dendi menyerahkan dokumen itu kepada Hasbi. Amplop putih bertuliskan “P Dendi” diserahkan Amir.

Isi amplop itu berupa uang Rp25 juta. Uang tersebut segera disimpan Dendi di dalam kantong baju batik dalam lemari pakaian,” sebut JPU Chadafi.

Setelah itu, Amir permisi untuk pulang. Sebelum keluar rumah, sebuah mobil melintas di depan rumah Dendi. Saat itu, Dendi sempat bertanya kepada Amir.

“Mudah-mudahan bukan mobil KPK, pak,” ucap Amir dengan nada bercanda ditirukan JPU Chadafi.

Lalu, Amir masuk ke dalam mobilnya di parkir di halaman rumah Dendi. Saat mesin mobil dihidupkan, datang beberapa orang yang mengenalkan diri dari tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polda Kepri.

Diakui Amir, uang baru saja diberikan kepada Dendi. Pintu rumah Dendi digedor. Saat dibuka, Dendi terkejut jika tamu yang datang dari Polda Kepri.

“Saya dijebak ini,” kata Dendi ditirukan JPU Chadafi.

Selanjutnya, ketua RT setempat dibawa anggota Saber Pungli Polda Kepri ke kediaman Dendi. Ketua RT ini diminta menyaksikan proses pengambilan amplop yang diberikan Amir kepada Dendi sebelumnya. Amplop itu diambil di dalam saku baju batik di lemari pakaian Dendi.

Setelah itu, Amir dan Dendi dibawa ke Mapolda Kepri. Di ruang penyidik, tiga amplop berisi uang dibuka. Amplop bertuliskan nama Dendi berisi uang Rp25 juta, amplop bertuliskan nama Hasbi berisi Rp5 juta, dan amplop bertuliskan nama Masrial Rp5 juta.

Atas perbuatannya, Dendi dijerat pasal 12 atau pasal 5 atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sedangkan Amir didakwa pasal 5.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top