Korupsi aset Pemkab Anambas

Mantan Kacab BSM dituntut 2 tahun penjara

Ipan (kiri) dan Khoirur Rijal (kanan) mendengarkan tuntutan jaksa di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Senin (30/10/2017). Foto: Surya. Ipan (kiri) dan Khoirur Rijal (kanan) mendengarkan tuntutan jaksa di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Senin (30/10/2017). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Khoirur Rijal A Rahman (46) dituntut dua tahun penjara oleh jaksa penuntut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Senin (30/10/2017). Sedangkan Ipan (51), mantan Bendahara Umum Daerah (BUD) Pemkab Kepulauan Anambas, dituntut satu tahun dan enam bulan penjara.

“Jaksa menuntut Ipan selama satu tahun dan enam bulan penjara. Perbuatan keduanya terbukti oleh jaksa dalam pasal 3 Undang-Undang Tipikor,” kata penasihat hukum Sri Ernawati saat dihubungi usai persidangan.

Ipan juga didenda Rp50 juta. Bila tak sanggup dibayar, maka hukuman Ipan ditambah tiga bulan kurungan.

“Ipan sudah membayar uang pengganti kerugian negara. Uang Rp208 juta sudah dikembalikan ke penyidik pidana khusus Kejati Kepri,” ungkap Ernawati.

Sementara itu, Khoirur Rijal dituntut selama dua tahun penjara. Ia juga didenda Rp50 juta atau subsider tiga bulan kurungan.

Khoirur Rijal diharuskan mengganti kerugian negara sekitar Rp139 juta. Jika uang tersebut tak diganti, maka hukumannya ditambah satu tahun penjara.

“Keduanya mengajukan pledoi atau nota pembelaan. Sidang berikutnya akan digelar pekan depan,” ungkap Ernawati.

Untuk diketahui, perbuatan Ipan dan Khoirur Rijal dipaparkan. Berawal saat Khoirur Rijal selaku Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri Tanjungpinang dan Silvia Permatasari bertemu Tengku Mukhtaruddin (masih diproses di Kejati Kepri) selaku Bupati Anambas di Hotel Menara Peninsula Jakarta Barat pada Januari 2011. Kedua belah pihak membicarakan rencana penempatan kas umum daerah Pemkab Anambas di Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Tanjungpinang.

Dalam pertemuan itu, Khoirur Rijal menawarkan produk-produk perbankan. Produk perbankan yang dipilih yaitu nisbah (bunga bagi hasil).

Namun, Mukhtaruddin meminta dalam bentuk barang. Sebab, ia ingin memberikan sepeda motor Honda tipe Mega Pro sebanyak 25 unit ke setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Setelah disepakati, rekening kas umum daerah Pemkab Anambas dibuat pada 2 Februari 2011 di BSM Tanjungpinang. Kepala Bagian Keuangan sekaligus Bendahara Umum Daerah (BUD) Kabupaten Anambas Ipan memerintahkan bawahannya, Surya Darma Putra mengambil dokumen pembukaan rekening giro di BSM Tanjungpinang. Berkas-berkas tersebut dibawa pulang ke Anambas untuk dilengkapi dokumen dan tanda tangan pembukaan rekening.

Setelah dokumen dilengkapi, saldo awal dibuka sebesar Rp40 miliar pada 28 Februari. Saldo ditambah Rp20 miliar pada 1 Maret.

Khoirur Rijal membuat surat ke Divisi Treasuri dan Perbankan Internasional di kantor pusat BSM. Surat itu tentang pengajuan permohonan pemberian special treatment untuk penempatan dana kas umum daerah Pemkab Anambas.

Surat itu disetujui pada 8 Maret. Selanjutnya, Pemkab Anambas menyimpan dana dalam bentuk deposito sebesar Rp30 miliar pada 4 April.

Atas penempatan dana itu, pihak BSM Tanjungpinang memberikan hadiah berupa 25 unit sepeda motor. Pembagian hadiah sepeda motor itu diurus Surya Darma Putra atas perintah Mukhtaruddin.

Sepeda motor itu dibagikan kepada Ipan, Radja Tjelak Nur Djalal (Sekda Anambas), Khoirur Rijal, Silvia Permatasari (pegawai BSM Tanjungpinang), dan Mukhtaruddin (dua unit). Sedangkan sisa sepeda motor sebanyak 18 unit dijual dengan harga Rp262 juta.

Masih atas perintah Mukhtaruddin, uang hasil penjualan sepeda motor dibagi-bagi dalam bentuk tunai. Mukhtaruddin mendapat Rp222 juta, Ipan Rp15 juta, Radja Tjelak Nur Djalal Rp15 juta, dan Surya Darma Putra Rp10 juta. Sepeda motor hadiah dari BSM Tanjungpinang ini tidak didaftarkan sebagai aset Pemkab Anambas.

Sekitar pertengahan 2011, atas perintah Ipan, Surya Darma Putra kembali diminta menemui Silvia. Pertemuan itu membahas hadiah mobil Toyota Avanza dari deposito yang disimpan.

Kemudian, Pemkab Anambas diminta menyimpan dana deposito Rp30 miliar pada 10 Juli. Mobil Toyota Avanza sebagai hadian dari bank atas penempatan dana dalam bentuk deposito diserahkan ke Pemkab Anambas pada 14 Desember.

Namun, mobil Toyota Avanza BP 1594 TG itu atas nama Galih Soeriswanto. Mobil itu diantar ke kediaman Ipan di daerah Kijang, Bintan Timur. Mobil ini tidak didaftarkan sebagai aset Pemkab Anambas.

Kemudian, pada 21 November 2011, penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BSM Tanjungpinang dengan Pemkab Anambas ditandatangani. MoU itu tentang Jasa-jasa Perbankan.

Keesokan harinya, Silvia bersama Khoirur Rijal bersilaturrahmi ke kediaman Mukhtaruddin di Tarempa. Mukhtaruddin berniat menempatkan dana baru.

Hadiah yang diminta berupa mobil Toyota Fortuner. Awal 2012, Ipan memerintahkan Surya Darma Putra menemui Silvia di BSM Tanjungpinang.

Pertemuan itu membahas hadiah mobil Fortuner. Pada 28 Maret 2012, Pemkab Anambas menempatkan dana Rp202,5 miliar dalam bentuk giro autosave dan deposito.

Sesuai ketentuan BSM, nasabah berhak mendapatkan nisbah (bagi hasil) sebesar 55 persen atas penempatan dana di giro autosave bila saldo rata-rata di atas Rp5 miliar. Pemberian hadiah berupa mobil Fortuner diajukan ke BSM pusat pada 13 April.

Pengajuan hadiah ini disetujui. Khoirur Rijal mencari mobil Toyota Fortuner di Jakarta.

Pasalnya, mobil jenis ini belum ada di Tanjungpinang maupun Batam. Mukhtaruddin memerintahkan Ipan membuat surat kuasa dan memberikan kuasa kepada Tjam Memy Theresia.

Nama ini dicantumkan di STNK dan BPKB mobil Fortuner B 1002 BJG. Surat kuasa tersebut ditandatangani oleh pemberi kuasa Ipan.

Mobil ini diserahkan Khoirur Rijal ke sopir Mukhtaruddin bernama Wawan di Jakarta pada 27 April. Mobil ini digunakan Mukhtaruddin untuk keperluan pribadi, termasuk untuk kegiatan sosialisasi calon Gubernur Riau pada 2013. Mobil ini tidak ada dalam daftar aset Pemkab Anambas.

SURYA

Berita terkait

*

*

Top