Kejurnas Hapkido Yogyakarta

Tanjungpinang juara umum dengan 13 emas

Kontingen Hapkido cabang Tanjungpinang meraih juara umum dalam kejurnas di Yogyakarta pada 26-27 Agustus lalu. Foto: Dispen Lantamal.

TANJUNGPINANG (KP): Kontingen Hapkido Tanjungpinang meraih juara umum dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Yogyakarta. Medali yang dirahih antara lain, 13 emas, 9 perak, dan 13 perunggu.

Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) IV Laksamana TNI R Eko Suyatno yang duduk sebagai Dewan Penasehat Hapkido cabang Tanjungpinang menyambut kedatangan kontingen, Selasa (29/8/2017). Rombongan baru saja mengikuti Kejurnas Hapkido pada 26-27 Agustus lalu.

Danyonmarhanlan IV Letkol Marinir Didik dalam pernyataan resminya, kontingen Hapkido diperkuat dua orang prajurit Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) IV yaitu Serda Marinir Hutasoit dan Prada Marinir Rafa. Keduanya menyabet medali emas dan perunggu. Prestasi luar biasa dicapai kontingen Hapkido cabang Tanjungpinang (Kepri) yaitu keluar sebagai juara umum dengan perolehan medali 13 emas, 9 perak, dan 13 perunggu.

“Hapkido adalah seni bela diri yang populer dikalangan militer dan sipil. Seni bela diri ini dikembangkan dikalangan Yonmarhanlan IV. Seni bela diri ini menggunakan teknik-teknik kuncian (joint locks), bergulat (grappling), dan teknik tendangan (kicks), pukulan (punches), lemparan (throwing), serangan sabetan, dan tusukan (striking),” jelas Didik.

Seni bela diri ini sangat dinamis dan elektik, namun sangat mematikan. Seni bela diri ini salah satu bentuk pertahanan diri dan lahir dari Korea.

Seni bela diri ini telah berkembang di Eropa, Australia, dan sejumlah negara di Asia termasuk di Indonesia. Senin bela diri Hapkido dideklarasikan pada 14 Mei 2014 di Yogyakarta. Walau usianya tergolong baru di Indonesia, namun perkembanganya sangat pesat.

Di lingkungan Korps Yonmarhanlan, seni bela diri ini wajib dikuasai oleh prajurit marinir. Seni bela diri ini mempunyai kelebihan dan kekhasan sangat mematikan.

“Hapkido merupakan bela diri kolaborasi teknik melumpuhkan lawan dengan pemahaman dan memanfaatkan titik-titik kelemahan yang ada pada anatomi tubuh manusia,” ungkap Didi.

REDAKSI

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top