Lokasi karantina sapi impor

Syarat terpenuhi, Kementan pilih pulau Bakung

Pulau Bakung akan dijadikan kawasan karantina sapi impor. Kawasan ini diyakini menyerap tenaga kerja di bidang peternakan. Foto: Istimewa. Pulau Bakung akan dijadikan kawasan karantina sapi impor. Kawasan ini diyakini menyerap tenaga kerja di bidang peternakan. Foto: Istimewa.

DAIK (KP): Kementerian Pertanian merespon positif tawaran Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, untuk menggunakan pulau Bakung sebagai lokasi karantina sapi. Pulau yang terletak di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Senayang, itu dinilai lebih layak dengan luasnya yang cukup memadai.

“Kementerian sudah merespon. Hari ini, bupati meminta kami meninjau dan mendokumentasikan pulau tersebut,” kata Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Pemkab Lingga Armia di Daik, Lingga, Selasa (4/7/2017).

Pulau Bakung merupakan alternatif terbaik. Pulau Naduk di Provinsi Bangka Belitung batal dijadikan lokasi karantina sapi karena dianggap tidak memenuhi syarat. Pulau Bakung secara geografis berdekatan dengan Pulau Batam, Singapura, dan Malaysia.

“Luasnya memadai. Pulau itu akan jadi pintu masuk sapi impor ke Indonesia,” jelas Armia.

Kabupaten Lingga melalui komitmen Bupati Alias menyatakan siap mendukung Kementan. Rencana pembangunan kawasan penampungan sapi impor yang diperkirakan menyerap dana APBN hampir Rp1 triliun itu siap direalisasikan.

“Pemerintah daerah sangat merespon. Banyak keuntungan yang akan didapat daerah dari program pulau karantina ini, terutama dari terbukanya lapangan pekerjaan,” ujar Armia.

Terkait persoalan kepemilikan lahan masyarakat di pulau Bakung, bupati Lingga juga telah menyampaikan kesiapan daerah untuk membantu pihak kementerian mempermudah proses pembebasan lahan tersebut. Diharapkan, masyarakat Lingga mendukung program ini.

“Kebetulan sudah direspon oleh pusat. Masyarakat diharapkan siap untuk bekerja sama dalam hal penyediaan lahan karantina sapi ini,” harap Armia.

Sebelumnya, Kementan menetapkan Pulau Naduk di Kabupaten Belitung sebagai pulau karantina. Pulau itu diharapkan mampu menampung sapi-sapi impor untuk mengantisipasi penyebaran penyakit, khususnya penyakit mulut dan kuku (PMK).

Namun, setelah dilakukan studi kelayakan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), pulau tersebut dianggap tidak memenuhi syarat sebagai tempat karantina hewan. Salah satu penyebabnya adalah kondisi topografi pulau itu sendiri yang memiliki cekungan dengan kedalaman hingga 80 sentimeter di atas permukaan laut.

“Kondisi itu dapat membuat pulau Naduk rawan terendam banjir rob. Bahkan pada saat melakukan kegiatan Amdal, lokasi itu terendam karena rob. Ini kendala teknis. Di sana juga ada habitat buaya,” kata Kepala Badan Karantina Kementan Banun Harpini.

Adapun fasilitas yang perlu dibangun di pulau karantina di antaranya, kandang, kandang isolasi dan untuk pemeriksaan, pastura atau padang penggembalaan, serta fasilitas yang menunjang keselamatan dan keamanan biota (biosafety, biosecurity).

“Kebutuhan anggaran tergantung ruang lingkup, sarana-prasarana, dan untuk jenis sapi apa saja,” kata Banun di Jakarta.

Dicontohkan, Pulau Naduk bisa berkapasitas sapi indukan yang bisa ditampung sebanyak 40.000 ekor. Luas area yang akan dijadikan tempat karantina di sana seluas 2.200 hektare.

Pembuatan pulau karantina untuk sapi merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Beleid ini memungkinkan Indonesia melakukan importasi sapi selain dari Australia, lantaran sudah menganut zone based.

ARDHY

Berita terkait

*

*

Top