Aktivitas di Laut Cina Selatan meningkat

Pasukan TNI AD ditambah di Natuna dan Anambas

Danrem 033 Wira Pratama Brigjen TNI Fachri saat pertemuan dengan Ketua LAM Kepri Abdul Razak mengenai insiden di Natuna, Selasa (11/4/2017). Danrem 033 Wira Pratama Brigjen TNI Fachri saat pertemuan dengan Ketua LAM Kepri Abdul Razak mengenai insiden di Natuna, Selasa (11/4/2017).

TANJUNGPINANG (KP): Aktivitas militer TNI diperkuat di wilayah Natuna dan Anambas sejak 2016 lalu. Penambahan pasukan ini merespon akan meningkatkan aktivitas militer Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Laut Cina Selatan sejak 2015 lalu.

“Negara RRT mengklaim gugusan karang di Laut Cina Selatan. Sekarang, mereka sedang membangun pangkalan militer di gugusan karang yang sudah ditimbun dan sudah menjadi pulau,” kata Komandan Korem 033 Wira Pratama Brigjen TNI Fachri dalam pertemuan dengan Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri Abdul Razak, Selasa (11/4/2017).

Jika sudah menjadi pulau, maka batas wilayahnya sampai salah satu pulau terluar di Indonesia yaitu Natuna. Dengan kata lain, setiap aktivitas kapal harus izin dari Otoritas RRT. Hal lain penyebab diperkuatnya militer di Natuna karena ada ada latihan gabungan yang digelar negara-negara persemakmuran Inggris di Asia Tenggara.

“Mereka tidak pernah latihan gabungan dua puluh tahun lebih. Itulah alasan Natuna diperkuat,” ungkap Fachri.

Merespon aktivitas di Laut Cina Selatan, latihan Angkasa Yudha digelar pada 2016 akhir. Presiden Joko Widodo meninjau langsung latihan itu.

Tak hanya Natuna, pasukan TNI AD akan ditambah di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam satu tahun ke depan. Saat ini, hanya ada tiga Koramil di Anambas.

“Kami akan membangun Kodim dan dua atau tiga Koramil lagi,” sebut Fachri.

Penambahan pasukan TNI AD cukup beralasan. Pasalnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sempat meninjau Anambas pada 6 April lalu. Temuan di daerah itu, ada perusahaan asal Malaysia yang memasang kabel optik sejak 2002. Kabel itu dipasang dari wilayah Malaysia Barat-Tarempa (Anambas)-Penarik (Natuna)-Kuching (Malaysia Timur).

“Kabel optik ini bisa mendeteksi pergerakan kapal perang kita. Panglima TNI memerintahkan untuk menduduki PT Sacofa dan memutus jalur komunikasinya,” ungkap Fachri.

SURYA

Berita terkait

*

*

Top